Minggu, 31 Mei 2009

Nama : Zainul Abidin

NPM: 086403020025

Jurusan : Sistem Informasi

  1. Judul Tugas Akhir:

“Perancangan sistem informasi laboratorium jurusan sipil fakultas teknik universitas negeri malang menggunakan Microsoft access 2003”

Ardian Purba Sasangka NIM 046403020019

  1. Tipe data yang dipakai adalah data Primer dimana data-datanya diperoleh dari senior-senior di laboratorium tersebut. Lalu data sekunder dimana data arsip dikembangkan serta data Internal dimana data−datanya diperoleh dari perusahaan itu sendiri.
  2. Metode penelitian yang dipakai adalah metode deskriptif dan metode lanjutan karena proses penelitiannya dari pengujian data arsip lalu data itu dikembangkan.
  3. menentukan Variable independent dan dependent :
    1. Variable Independent : Perancangan System Laboratorium Jurusan Sipil Fakultas Teknik Unviersitas Negeri Malang
    2. Variable dependent : Menggunakan Microsoft Access 2003

Senin, 04 Mei 2009

TUGAS MPI1

Nama : Moch. Rizki Fadillah
Nim : 070403020053
Jurusan : Sistem Informasi

Laporan Tugas Akhir milik I Nyoman Gede Wirya Adnyana (040403020011)
1. Judul Tugas Akhir
“Perancangan Web Site Taman Budaya dan Reptil Indonesia Jaya di Denpasar-Bali”
2. Jenis /tipe data yang dipakai dalam penelitiannya.
Jenis Data yang digunakan adalah Kualitatif dan Kuantitatif. Penyajian data disampaikan dalam bentuk uraian Deskriptif
3. Metode Penelitiannya
a. Teknik Observasi
Data didapat berupa pengamatan secara langsung maupun tidak langsung
b. Teknik Dokumentasi
Teknik ini merupakan teknik pengumpulan data yang dilakukan dengan cara mengumpulkan data dari dokumen-dokumen yang ada, baik yang berasal dari perusahaan itu sendiri maupun dari luar perusahaan yang memberikan informasi mengenai topic yang akan dibahas.
c. Teknik Kajian Pustaka
Mempelajari dan menelaah literature yang ada hubungannya dengan judul dan masalah yang dibahas. Adapun data-data yang diiperoleh dari teknik pengumpulan data berupa bahan-bahan yang dapat digunakan sebagailandasan teori
4. Variabel Independen dan Dependennya
Variabel independen: Masyarakat banyak yang belum mengetahui tentang informasi dan layanan yang diberikan oleh pihak Taman Budaya dan Reptil sehingga jumlah pengunjung tidak sesuai dengan harapan

Variabel dependen: Merancang Web Site Taman Budaya dan Reptil karena website sebagai salah satu media promosi yang dapat diakses dengan tanpa batasan jarak dan waktu

TUGAS

Tugas Metode Penelitian Ilmiah
Nama : A. Khoirul Hidayat
Nim :070403020037
Jurusan : Sistem Informasi

A. Judul tugas akhir : DESAIN WEB SIMULASI GEDUNG UNIVERSITAS KANJURUHAN MALANG MENGGUNAKAN VRML
B. Jenis data yang dipakai :
Tipe data sekunder dan tipe data internal.
C. Metode penelitian :
a. Survey lapangan
Survey dilakukan dengan cara mendokumentasikan / mengambil gambar bangunan Universitas Kanjuruhan selama 1 bulan.
b. Penelitian kepustakaan
Penulis menggunakan landasan dari beberapa buku referensi dan dari situs internet yang berhubungan dengan materi.
c. Desain konsep model VRML
Melakukan desain sistem pada simulasi yang akan dibuat.
d. Pembuatan simulasi
Penulis melakukan pembuatan program simulasi secara langsung.
e. Uji coba
Penulis melakukan uji coba program simulasi secara langsung.
D. Variable independen dan dependen dari Tugas Akhir tersebut :
a. Variable indepanden :
Pembuatan desain simulasi gedung menggunakan VRML.
b. Variable dependen :
Implementasi dari pembuatan desain simulasi gedung menggunakan VRML.

Minggu, 03 Mei 2009

analisa metode penelitian ilmiah

Tugas metode penelitian ilmiah
Nama :didik hariyanto
Nim :070403020040
Jurusan : sistem informasi

Laporan tugas akhir yang dipakai analisa di susun oleh bayu raharjo (046403020010)

1.tentukan judul tugas akhir tersebut
* Perancangan Sistem Requirement Planning
Guna untuk Perencanaan dan Pengendalian Persediaan Bahan Baku
di PT.Sejati Ngoro Mojokerto.

* Perencanaan dan Pengendalian Persediaan Bahan Baku
Dengan Menerapkan Sistem Material Requirement Planning (MRP)
Di PT. Sejati Ngoro Mojokerto.

2.tentukan jenis /tipe data apa yang dipakai dalam penelitiannya.
Dalam hal ini jenis/data yang dipakai dalam penelitiannya DATA DAN VARIABEL
yaitu menggunakan studi lapanngan dengan cara :
Interview: Tanya jawab secara langsung dengan pihak yang berkepentingan yaitu
dengan PPIC
Dokumentasi: dengan mengumpulkan data yang telah diperoleh baik yang
berupa arsip dan data yang lainnya.

3.tentukan metode penelitiannya apa
Metode yang digunakan dalam penelitiannya metode deskriptif
dalam hal ini dengan cara studi kasus,riset dokumen,suvei.

Interview: Tanya jawab secara langsung dengan pihak yang berkepentingan
yaitu dengan PPIC

Dokumentasi: dengan mengumpulkan data yang telah diperoleh baik
yang berupa arsip dan data yang lainnya

4.tentukan variabel independen dan dependennya
Variabel independen:dalam penelitian ini karena belum ada
sistem yang dapat membantu kinerja perusahaan guna meningkatkan produk.
Terutama dalam mengatur ketersedian bahan baku produksi
maka dibuatlah sebuah sistem material requirenment planning

Variabel dependen:dengan adanya rancangan yang telah di buat
dapat mempermudah dalam pengambilan keputusan
dalam hal ini pihak PPIC yaitu bagian perencanaan produksi

Tugas MPI

Judul :

PERANCANGAN SISTEM MATERIAL REQUIREMENT PLANNING DI PT. SEJATI NGORO MOJOKERTO
.
Disusun oleh : Bayu Raharjo
.
A. Tipe data yang dipakai dalam penelitiannya adalah :
.
1. Data sekunder, dimana data primer yang diperoleh yang telah diolah lebih lanjut dan disajikan baik oleh pihak pengumpul data dalam bentuk tabel-tabel dan diagram-diagram.
.
2. Data Internal, karena data ini diperoleh dari perusahaan dimana riset ini dilakukan
.
B. Metode Penelitian yang dipakai adalah :
.
Metode Deskriptif dengan Riset Lanjutan :
.
a. Dimana peneliti melakukan pengumpulan dokumen data dan informasi melalui pengujian arsip dan dokumen.
.
b. Metode yang dipakai adalah analisis dokumen atau analisis isi
.
C. Variabel yang dipakai :
.
Variabel Independenya : Hasil produksi, bahan baku, mesin dan semua laporan
.
Variabel dependennya : Bill of material, Rencana produksi dan order bahan baku
.
Nama : Anang Agus Siswandy
.
NPM : 076403020043
.

Minggu, 19 April 2009

Riset

A. Pengertian Riset dan Pengetahuan Ilmiah

Pengertian Riset adalah : Setiap proses yang menghasilkan ilmu pengetahuan.

Pengertian Riset menurut beberap pendapat :

Menurut Clifford Woody riset adalah suatu pencarian yang dilaksanakan dengan teliti untuk memperoleh kenyataan-kenyataan atau fakta atau hukum-hukum baru. Di dalamnya terdapat usaha dan perencanaan yang sungguh-sungguh yang relatif makan waktu yang cukup lama.

Sedangkan Whiteney (1950) mengatakan, bahwa di dalam riset terkandung suatu attidute yang gandrung dan cinta akan adanya perubahan-perubahan.

Selanjutnya lebih tegas dikemukakan oleh Berkner (1985), bahwa riset adalah usaha secara ilmiah untuk mendapatkan dan memperluas ilmu yang telah dimiliki.

Folson, dalam ahun yang sama, mengemukakan, bahwa riset adalah kegiatan ilmiah untuk menemukan sesuatu yang baru sama sekali.

Trullinger (1951) mengemukakan bahwa riset adalah kegiatan ilmiah untuk mendapatkan atau menembus batas-batas ilmu yang telah ada.

True (1907) mengatakan bahwa riset itu adalah usaha-usaha ilmiah untuk mencari jawaban-jawaban masalah tertentu.

F. Rumawas (1973-1974) mengatakan bahwa penelitian itu adalah suatu usaha manusia untuk mengisi kekosongan illmu pengetahuan,

National Science Foundation (1956) memberikan pengertian bahwa riset itu adalah usaha pencarian secara sistematik dan mendalam untuk mendapatkan ilmu pengetahuan yang lebih luas dan lebih sempurna tentang subyek yang sedang dipelajari. Uraian yang lebih jelas kiranya dapat diperoleh dari uraian

Sutrisno Hadi (1978) sebagai berikut: riset berarti usaha menemukan, mengembangkan dan menguji suatu pengetahuan secara ilmiah.

Maksud dan tujuan riset :

- Untuk memperoleh data yang akurat, konsisten dan dapat dipercaya, yang penting bagi bahan perencanaan pembangunan negara dan bangsa.

- Mencari jalan pemecahan masalah atau masalah-masalah yang sedang dan yang akan dihadapi, seperti misalnya bagi indonesia masalah eksplosi penduduk (umpama transmigrasi), peningkatan penghasilan per kapita dan lain-lainnya.

- Untuk meningkatkan kohesi nasional. Penyelenggaraan pertemuan atau rapat kerja ilmiah antara ahli-ahli di indonesia, dapat menumbuhkan serta mengembangkan dan membina kohesi Nasional. Di dalamnya akan tumbuh satu bangsa, satu bahasa dan satu negara.

- Meningkatkan dan membina kerukunan bangsa-bangsa dunia.

- Mencari dan menemukan ilmu pengetahuan baru atau meluaskan horison ilmu yang telah dimiliki sekarang.

Jenis-Jenis Riset

Berdasarkan beberapa pertimbangan para ahli, riset digolongkan atas beberapa jenis seperti :

a. Riset dasar (basic research),
b. Riset terapan (applied research),
c. Riset perkembangan (development research) dan
d. Riset adaptasi (adapted reseearch)

Riset Dasar :

Jenis riset ini adalah merupakan suatu penelitian yang penemuannya tidak atau belum dikaitkan dengan latar belakang kegiatannya secara praktis.

Riset ini bertujuan mencari dan menemukaan hukum-hukum baru yang bersifat umum dan mengusahakna untuk memperluas dan memperjelas pengertian tentang fenomena yang sedang diteliti. (Rome, 1961).

Misalnya ilmu tentang atom-atom dan listrik dahulunya merupakan hasil riset dasar. Namun sekarang ilmu itu telah merupakan mukzizat bagi semua manusia di atas bumi.

Riset Terapan :

1. Sebaliknya riset terapan bermaksud menemukan hukum-hukm yang relatif secara cepat dapat dipergunakan untuk memecahkan satu atau beberapa masalah yang dihadapi oleh manusia.
.
2. Riset-riset dalam disiplin pertanian, teknik biasanya termasuk dalam jenis riset terapan. Penelitian tentang jenis-jenis padi yang cocok pada suatu daerah, penelitian yang memperoleh jenis padi tahan wereng, penelitian dengan memperoleh jenis rumput yang tahan kekeringan tapi berproduksi tinggi, riset menemukan campuran pasir dan semen untuk memperoleh jenis beton yang kokoh, penelitian dengan maksud menemukan level pupuk yang maksimum dan lain-lainnya adalah contoh-contoh riset terapan.
.
3. Penelitian membuat bayi tabung pun adalah suatu hasil dari penelitian terapan.

Riset Pengembangan :

1. Riset ini bertugas mencek kembali hasil penelitian terapan yang telah diperoleh di suatu daerah atau negara, apakah cocok ataukah tidakAtau apakah harus diadakan variasi guna menyesuaikan dengan kondisi yang baru.
.
2. Bentuk riset ini biasanya merupakan pilot proyek. Bahan penelitian dibuat kecil saja, hingga benar-benar kondisi-kondisi intern dan ekstern dapat dikuasai, atau diselidiki pengaruhnya.
.
3. Suatu contoh, misalnya ialah percobaan adaptasi jenis-jenis padi PB yang telah diketemukan di Los Banhyos, Philipina, di beberapa daerah di Indonesia. Mula-mulanya dicobakan di daerah Bogor, kemudian barulah disebarkan kedaerah-daerah.

Riset Adaptasi :

1. Riset adaptasi tampaknya hampir sama dengan riset pengembangan. Tetapi riset adaptasi melulu diadakan untuk mengadakan penyelesaian baru pada tempat baru bagi setiap hasil yang telah ketemukan di daerah lainnya.
.
2. Misalnya percobaan-percobaan varietas unggul seperti PB, Pelita I/1 dan Pelita I/2, PB26 dan terakhir PB26 dibeberapa daerah di Indonesia. Biasanya ilmu-ilmu pertanian sosial ekonomilah yang perlu diperiksa penterapannya di daerah baru, apakah sesuai apakah tidak?
.
3. Di dalam bidang industri, terdapat riset terapan dan pengembangan (applied research and development), riset dasar terarah (directed basic research) dan riset dasar tak-terarah (undirected basic research).
.
4. Riset terapan dan pengembangan secara langsung dilakukan untuk memajukan perusahaan atau industri yang besangkutan. Misalnya riset untuk menemukan jenis mesin yang paling mutakhir, kuat dan hemat, dan sebagainya, penelitian untuk memperoleh mesin pencetak yang bersifat ganda, dan sebagainya.
.
5. Penelitian dasar terarah dimaksudkan untuk meneliti hukum-hukum dasar, yang kemudian hari dapat dipakai untuk memajukan perusahaannya.
.
6. Riset dasar tak-terarah dimaksudkan untuk meneliti masalah yang skupnya luas dan tanpa diarahkan untuk memcahkaan suatu masalah yang dihadapi oleh perusahaan atau industri.
.
Perusahaan dan industri tidak mengharapkan keuntungan dengan cepat, yang dikemudian hari mungkin hasil riset ini digunakannya di dalam memajukan industrinya.

Dari pengertian riset diatas dapat diambil kesimpulan bahwa :

Pengetahuan disebut ilmiah jika dipenuhi syarat-syarat sebagai berikut :

- Bersifat obyektif
- Bersifat luas
- Bersifat dalam
- Bersifat dalam
- Dapat diabstrasikan
- Dapat dikonkretisasi
- Berupa sistem
- Berkembang
- Memiliki disiplin dan metodis instrumentalis

B. Kriteria Riset Ilmiah

Menurut Nazir (1988) metode ilmiah harus mempunyai kriteria sbb :

- Berdasarkan pada fakta
- Bebas dari prasangka
- Menggunakan analisis
- Menggunakan hipotesis
- Menggunakan ukuran yang objektif
- Menggunakan teknik kuantifikasi

Fakta jika dalam bentuk peristiwa harus memiliki unsur :

- Adanya subjek yang menimbulkan peristiwa
- Adanya peristiwa
- Adanya waktu dan tempat kejadian
- Adanya objek yang diakibatkan oleh subjek yang menimbulkan peristiwa
- Adanya latar muka kejadian
- Adanya sebab-sebab kejadian
- Adanya motif kejadian

C. Langkah-langkah Riset

- Mendefinisikan dan merumuskan masalah
- Melakukan studi kepustakaan
- Memformulasikan Hipotesis
- Menentukan model
- Mengumpulkan data
- Mengolah dan menyajikan informasi
- Menganalisis dan menginterpretasi
- Membuat generalisasi (kesimpulan) dan rekomendasi (saran)
- Membuat laporan

II. ETIKA DALAM RISET

Bagaimana hendaknya etika bagi peneliti/penilai suatu hasil riset terhadap responden, asisten dan klien.

- Etika peneliti pada responden

Dalam melakukan pengumpulan data, lindungi hak-hak responden, misalnya responden tidak akan merasa dirugikan, baik secara fisik maupun mental

- Etika Peneliti pada Klien

Klien berhak untuk mendapatkan hasil studi yang berkualitas.

- Etika peneliti pada asisten

Peneliti harus menuntut perilaku etis asisten. Perilaku asisten perilaku asisten dibawah pengawasan langsung peneliti sehingga jika asisten berbuat curang yang bertanggungjawab adalah peneliti.

- Etika Klien

Hendaknya klien tidak memaksakan peneliti untuk mengubah data.


III. Metode dan Desain Riset

A. Pemakaian Metode dan Desain riset

Beberapa literatur menyebutkan bahwa metode dan desain ini dianggap sama, tapi penulis mengikuti pendapat yang membedakan antara metode dengan desain, karena desain merupakan bagian dari keseluruhan metode riset.


B. Macam Metode Riset

1. Metode sejarah
Kecenderungan metode ini bertumpu pada kegiatan mengevaluasi suatu objek seperti peristiwa atau tokoh masa lampau.

2. Metode deskripitif
Menurut Traves (1978) metode ini bertujuan untuk menggambarkan sifat sesuatu yang tengah berlangsung pada saat riset dilakukan dan memeriksa sebab-sebab dari suatu gejala tertentu.

Menurut Consuelo (1988) metode deskriptif terdiri dari beberapa macam yaitu:

a. Studi kasus

Penelitian yang rinci mengenai suatu objek tertentu selama kurun waktu tertentu dengan cukup mendalam dan menyeluruh termasuk lingkungan dan kondisi masa lalunya.

b. Survei

Digunakan untuk mengukur gejala-gejala yang ada tanpa menyelidiki kenapa gejala-gejala tersebut ada.

c. Riset Pengembangan

Penelitian ini berguna untuk memperoleh informasi tentang perkembangan suatu objek dalam waktu tertentu.

d. Riset lanjutan (follow up)

Riset ini dilakukan setelah bila peneliti hendak mengetahui perkembangan lanjutan dari setelah diberikan perlakuan tertentu atau setelah kondisi tertentu.

e. Riset Dokumen (content analysis)

Penelitian dengan pengujian arsip dan dokumen.

f. Riset Kecenderungan (Trend Analysis)

Suatu penelitian yang bertujuan melihat kondisi yang akan datang dengan melakukan proyeksi atau ramalan.

g. Riset Korelasi

Penelitian yang dirancang untuk menentukan tingkat hubungan variabel-variabel yang berbeda dalam suatu populasi.


3. Metode Eksperimen

Metode eksperimen merupakan langkah-langkah lengkap yang diambil sebelum eksperimen dilakukan agar data yang semestinya diperlukan dapat diperoleh. Variabel bebas dijadikan sebagai variabel eksperimen. Ary (1994) mengatakan bahwa konsep eksperimen dibagi dalam 3 kelompok yaitu :

a. variabel bebas adalah variabel yang dimanipulasi
b. semua variabel kecuali variabel terikat adalah konstan
c. pengaruh pemanipulasian variabel bebas atas variabel terikat dapat diamati atau diukur.

4. Metode Kausal-Komparatif (ex-post Facto)

Menurut Gay (1976) penelitian ini berjalan dengan cara menentukan akibat menemukan sebab.

5. Metode Partisipatory

Metode partisipatory memiliki beberapa prinsip yang harus dipenuhi, antara lain ia memiliki implikasi ideologi, memberikan manfaat langsung kepada masyarakat, melibatkan semua partisipan yang terlibat dalam riset dimana mereka sadar.

C. Macam desain riset

1. Desain dalam merencanakan Penelitian

2. Desain dalam melaksanakan penelitian :

a. desain sampel
b. desain instrumen
c. desain analisis
d. desain administrasi

D. Desain untuk riset kuantitatif dan kualitatif

Penelitian kualitatif umumnya sulit diberi pembenaran secara matematik, ia lebih kepada penyampaian perasaan atau wawasan yang datanya diambil berdasarkan sampel. Penelitian kuantitatif lebih berdasarkan kepada data yang dapat dihitung untuk menghasilkan penaksiran kuantitatif yang kokoh.
.
kelompok 3
1. Anang Agus Siswandy
2. Zainal Abidin
3. Moch. Rizki Fadillah

METODE SURVEI TERUMBU KARANG INDONESIA

METODE SURVEI TERUMBU KARANG INDONESIA
Oleh
OFRI JOHAN, M.Si.*
Survei kondisi terumbu karang dapat dilakukan dengan berbagai metode tergantung pada tujuan survei, waktu yang tersedia, tingkat keahlian peneliti, dan ketersediaan sarana dan prasarana. Agar hasil survei dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah maka perlu diperhatikan cara pemilihan keterwakilan lokasi, panjang transek (sampling) yang diambil dan banyaknya ulangan yang diperlukan.
Meskipun telah banyak metode survei pada saat ini, namun masing-masing memiliki kelebihan dan kekurangan, sehingga dapat dikatakan belum ada suatu metode yang memuaskan. Ada beberapa alasan yang menyebabkan sulitnya menggambarkan suatu kondisi terumbu karang dengan metode survei yang ada saat ini (Suharsono, 1994), antara lain:

1. Terumbu karang yang tumbuh di tempat geografis yang berbeda mempunyai tipe yang berbeda.
2. Ukuran individu atau koloni sangat bervariasi dari beberapa centimeter hingga beberapa meter.
3. Satu koloni karang dapat terdiri beberapa individu sampai jutaan individu.
4. Bentuk pertumbuhan sangat bervariasi seperti bercabang, masif, merayap, seperti daun, dan sebagainya.
5. Tata nama jenis karang masih relatif belum stabil dan adanya perbedaan jenis yang hidup pada lokasi geografis yang berbeda, serta adanya variasi morfologi dari jenis yang sama yang hidup pada kedalaman yang berbeda maupun tempat yang berbeda.
Penggunaan metode survei dalam menggambarkan kondisi terumbu karang biasanya disajikan dalam bentuk struktur komunitas yang terdiri dari data: persentase tutupan karang hidup, persentase tutupan karang mati, jumlah marga, jumlah jenis, jumlah koloni, ukuran koloni, kelimpahan, frekuensi kehadiran, bentuk pertumbuhan, indeks keanekaragaman jenis (Suharsono, 1994).
Beberapa metode yang umum digunakan oleh peneliti dalam menggambarkan kondisi terumbu karang adalah:
* Disampaikan pada acara Training Course: Karakteristik Biologi Karang, tanggal 7-12 Juli 2003, yang diselenggarakan oleh PSK-UI dan Yayasan TERANGI, dan didukung oleh IOI-Indonesia.
1. Metode Transek Garis
2. Metode Transek Kuadrat
3. Metode Manta Tow
4. Metode Transek Sabuk (Belt transect)

Berikut akan kita coba menjelaskan secara ringkas masing-masing metode tersebut:
1. Metode Transek garis
Transek garis digunakan untuk menggambarkan struktur komunitas karang dengan melihat tutupan karang hidup, karang mati, bentuk substrat (pasir, lumpur), alga dan keberadaan biota lain. Spesifikasi karang yang diharapkan dicatat adalah berupa bentuk tumbuh karang (life form) dan dibolehkan bagi peneliti yang telah memiliki keahlian untuk mencatat karang hingga tingkat genus atau spesies.
Pemilihan lokasi survei harus memenuhi persyaratan keterwakilan komunitas karang di suatu pulau. Biasanya penentuan ini dilakukan setelah dilakukan pemantauan dengan metode Manta Tow.
Peralatan yang dibutuhkan dalam survei ini adalah rol meter, peralatan scuba, alat tulis bawah air, tas nilon, palu dan pahat untuk mengambil sampel karang yang belum bisa diidentifikasi, dan kapal.
Garis transek dimulai dari kedalaman dimana masih ditemukan terumbu karang batu (± 25 m) sampai di daerah pantai mengikuti pola kedalaman garis kontur. Umumnya dilakukan pada tiga kedalaman yaitu 3 m, 5 m dan 10 m, tergantung keberadaan karang pada lokasi di masing-masing kedalaman. Panjang transek digunakan 30 m atau 50 m yang penempatannya sejajar dengan garis pantai pulau.
Pengukuran dilakukan dengan tingkat ketelitian mendekati centimeter. Dalam penelitian ini satu koloni dianggap satu individu. Jika satu koloni dari jenis yang sama dipisahkan oleh satu atau beberapa bagian yang mati maka tiap bagian yang hidup dianggap sebagai satu individu tersendiri. Jika dua koloni atau lebih tumbuh di atas koloni yang lain, maka masing-masing koloni tetap dihitung sebagai koloni yang terpisah. Panjang tumpang tindih koloni dicatat yang nantinya akan digunakan untuk menganalisa kelimpahan jenis. Kondisi dasar dan kehadiran
2
karang lunak, karang mati lepas atau masif dan biota lain yang
ditemukan di lokasi juga dicatat.

Kelebihan
1.Akurasi data dapat diperoleh dengan baik
2.Data yang diperoleh juga jauh lebih baik dan lebih banyak
3.Penyahian struktur komunitas seperti persentase tutupan karang hidup/karang mati, kekayaan jenis, dominasi, frekuensi kehadiran, ukuran koloni dan keanekaragaman jenis dapat disajikan secara lebih menyeluruh
4.Struktur komunitas biota yang berasosiasi dengan terumbu karang juga dapat disajikan dengan baik

Kekurangan
1.Membutuhkan tenaga peneliti yang banyak
2.Survei membutuhkan waktu yang lama
3.Dituntut keahlian peneliti dalam identifikasi karang, minimal life form dan sebaliknya genus atau spesies
4.Peneliti dituntut sebagai penyelam yang baik
5.Biaya yang dibutuhkan juga relatif lebih besar


Gambar 1. Cara pencatatan data koloni karang pada metode transek garis (English et al, 1994).
3
Metode lain yang mengacu pada Prinsip transek garis ini yaitu point transect, salah satu contoh aplikasinya sering gunakan pada program Reef Check. Pengamatan dilakukan pada setiap 0.5 meter terhadap karang keras, karang lunak, karang mati, alga dan biota lain.
2. Metode Transek Kuadrat
Metoda transek kuadrat digunakan untuk memantau komunitas makrobentos di suatu perairan. Pada survei karang, pengamatan biasanya meliputi kondisi biologi, pertumbuhan, tingkat kematian dan rekruitmen karang di suatu lokasi yang ditandai secara permanen. Survei biasanya dimonitoring secara rutin. Pengamatan didukung dengan pengambilan underwater photo sesuai dengan ukuran kuadrat yang ditetapkan sebelumnya. Pengamatan laju sedimentasi juga sangat diperlukan untuk mendukung data tentang laju pertumbuhan dan tingkat kematian karang yang diamati.

Peralatan yang dibutuhkan adalah kapal kecil, peralatan scuba, tanda kuadrat 1 m x 1 m dan sudah dibagi setiap 10 cm, kaliper, GPS dan underwater camera.
Data yang diperoleh dengan metoda ini adalah persentase tutupan relatif, jumlah koloni, frekuensi relatif dan keanekaragaman jenis.
Kelebihan
1.Data yang diperoleh lengkap dengan mengambar posisi biota yang ditemukan pada kuadrat, dengan bantuan underwater photo
2. Sumber informasi yang bagus dalam pemantauan laju pertumbuhan, tingkat kematian, laju rekruitmen

Kekurangan
1.Proses kerjanya lambat dan membutuhkan waktu lebih lama.
2. Peralatan yang digunakan tidak praktis dan susah bekerja pada lokasi yang berarus
3. Metode ini cocok hanya pada luasan perairan yang kecil
4.Sedimen trap tidak bisa ditinggal dalam waktu lama dan tidak efektif pada daerah yang berarus

3. METODA MANTA TOW
Penelitian menggunakan metoda manta tow bertujuan untuk mengamati perubahan secara menyeluruh pada komunitas bentik yang ada pada terumbu karang, termasuk kondisi terumbu karang tersebut. Metode ini sangat cocok untuk memantau daerah terumbu karang yang luas dalam waktu yang pendek, biasanya untuk melihat kerusakan akibat adanya badai topan, bleaching, daerah bekas bom dan hewan Acanthaster plancii (Bulu seribu). Teknik ini juga sering digunakan untuk mendapatkan daerah yang mewakili untuk di survei lebih lanjut dan lebih teliti dengan metoda transek garis.

Pelaksanaan di lapangan, metode manta tow ini dengan cara menarik peneliti dengan menggunakan perahu selama dua menit dengan kecepatan tetap 3-5 km/jam atau seperti orang yang berjalan lambat. Apabila ada faktor lain yang menghambat seperti arus yang kencang, maka kecepatan perahu dapat ditambah sesuai dengan tanda dari si pengamat yang berada di belakang perahu. Peneliti akan mengamati beberapa objek sepanjang daerah yang dilewati dan persentase penutupan karang hidup (karang keras dan karang lunak) dan karang mati. Data yang diamati dicatat pada tabel data dengan menggunakan nilai kategori atau dengan nilai persentase bilangan bulat. Untuk tambahan informasi yang menunjang pengamatan, dapat pula memasukkan penutupan pasir, patahan karang, objek lain (Tridacna, Diadema dan Acanthaster) sebagai objek yang diamati, semua tergantung tujuan penelitian yang telah ditetapkan.

Peralatan yang digunakan dalam metode Manta Tow ini adalah kaca mata selam (masker), snorkel, fin, perahu motor minimal 5 PK, papan manta yang berukuran panjang 60 cm, lebar 40 cm dan tebal dua cm, tali yang panjang 20 m dan berdiameter satu cm, pelampung kecil, alat tulis bawah air, stop watch dan GPS.
Kelebihan
1.Daerah yang luas dapat di survei dalam waktu yang singkat
2.Metodenya sederhana dan mudah dipraktekkan
3.Biaya yang dibutuhkan tidak begitu mahal
4. Peneliti tidak terlalu lelah untuk survei areal yang luas

Kekurangan
1. Survei secara tidak sengaja bisa dilakukan pada lokasi di luar terumbu karang (pasir, perairan yg dalam.
2.Peneliti sering lupa bila terlalu banyak objek yang di ingat
3.Kemungkinan ada objek (binatang) yang terlewatkan.
4.Metode tidak cocok bila visibility rendah (kurang dari 6 m)





4. METODA TRANSEK SABUK (BELT TRANSECT)
Transek sabuk digunakan untuk mengambarkan kondisi populasi suatu jenis karang yang mempunyai ukuran relatif beragam atau mempunyai ukuran maksimum tertentu misalnya karang dari genus Fungia. Metoda ini bisa juga untuk mengetahui keberadaan karang hias (jumlah koloni, diameter terbesar, jumlah jenis) di suatu daerah terumbu karang.
Panjang transek yang digunakan ada 10 m dan lebar satu m, pengamatan keberadaan karang hias yang pernah dilakukan oleh lembaga ICRWG (Indonesia Coral Reef Working Group) menggunakan panjang transek 30 m dan lebar dua meter (satu m sisi kiri dan kanan meteran transek). Pencatatan dilakukan pada semua individu yang menjadi tujuan penelitian, yang berada pada luasan transek.
Kelebihan
1. Pencatatan data jumlah individu lebih teliti
2. Data yang diperoleh mempunyai akurasi yang cukup tinggi dan dapat mengambarkan struktur populasi karang

Kekurangan
1.Membutuhkan keahlian untuk mengidentifikasi karang secara langsung dan dibutuhkan penyelaman yang baik
2.Waktu yang dibutuhkan cukup lama

Metode lain yang merupakan pengembangan dari metode sabuk (belt transect) dan juga digunakan peneliti saat ini adalah video belt transect, metode ini menggunakan video untuk merekam sepanjang transek dan luasan yang dilalui.
Kemudian hasil rekaman diputar ulang untuk pencatatan dan identifikasi jenis karang untuk mendapatkan persentase karang hidup dan kriteria lain seperti pada metoda yang lainnya. Keuntungan metode ini, waktu kerja di laut bisa lebih efisien,
tidak membutuhkan tenaga dan biaya banyak. Hanya saja peralatan underwater video yang masih tergolong mahal bagi peneliti di Indonesia.

DAFTAR ACUAN
English S., C. Wilkinson & V. Baker. 1994. Survey manual for tropical marine resources. ASEAN-Australia Marine Science Project: Living Coastal Resources.
Suharsono, 1994. Metode penelitian terumbu karang. Pelatihan metode penelitian dan kondisi terumbu karang. Materi Pelatihan Metodologi Penelitian Penentuan Kondisi Terumbu Karang: 115 hlm.
Suharsono, 1996. Jenis-jenis karang yang umum dijumpai di perairan Indonesia. Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia. Pusat Penelitian dan Pengembagan Oseanologi. Proyek penelitian dan Pengembangan daerah Pantai: 116 hlm.
Sukmara, A., A.J. Siahainenia & C. Rotinsulu. 2002. Panduan Pemanta


kelompok 2
1.jatmiko basuki
2.didik hariyanto
3.yosef f.s.

SAMBIL BELAJAR DENGERIN MUSIK